Mahasiswa STIPER Berau Gelar Aksi Protes, Tolak Merger Kampus dan Soroti Dugaan Pelanggaran Rektor

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Berau menggelar aksi demonstrasi di halaman Kampus mereka, Senin (19/5/2025). Aksi tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap rencana merger Kampus dengan Universitas lain dan dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh pimpinan Kampus.

 

Dalam orasinya, koordinator aksi, Josua, menyatakan bahwa salah satu alasan utama aksi tersebut adalah keberadaan Rektor yang dinilai telah menjabat terlalu lama, melebihi batas maksimal yang diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Kampus.

 

“Kami sangat menyayangkan masa jabatan Rektor hanya empat tahun dalam satu periode. Namun, beliau sudah menjabat lebih dari 14 tahun. Ini jelas melanggar aturan,” tegas Josua.

 

Josua juga menyoroti minimnya transparansi dalam pengelolaan Kampus, termasuk proses sosialisasi yang dilakukan setelah keputusan diambil secara sepihak oleh pimpinan. Mahasiswa mengindikasikan adanya praktik komersialisasi pendidikan yang tidak sehat.

 

“Menurut kami tidak ada transparansi,  sosialisasi dilakukan saat semua administrasi sudah selesai. Bahkan, kami menduga ada tanda tangan palsu pada dokumen yang disebut berita acara. Ini sangat mencurigakan,” ujarnya.

 

Tak hanya soal transparansi, mahasiswa juga mempersoalkan dugaan penambangan ilegal di kawasan Kampus yang menurut mereka sudah lama dikeluhkan, namun tak kunjung ditanggapi oleh pihak Kampus maupun instansi pemerintah terkait.


“Permasalahan tambang ilegal ini sudah lama kami soroti. Tapi sampai sekarang tidak ada respons. Kampus ini kami anggap sudah tidak lagi aman secara lingkungan,” tambahnya.

 

Mengenai rencana penggabungan (merger) STIPER dengan Universitas Muhammadiyah, para mahasiswa dengan tegas menolak. Mereka menilai merger tersebut akan menghilangkan identitas kampus dan mengganggu kehidupan akademik yang selama ini terjalin harmonis.

 

“Kami hidup damai di kampus ini. Banyak organisasi hidup berdampingan tanpa intervensi. Kami tidak ingin diusir dari rumah kami sendiri,” tutur Josua, penuh semangat.

 

Para mahasiswa juga mengaku telah mengirim surat ke Bupati Berau serta DPRD Kabupaten Berau, namun hingga kini belum ada tanggapan yang memuaskan. Mereka pun mengaku kecewa terhadap sikap DPRD yang dinilai tidak berpihak kepada aspirasi mahasiswa.

 

“Harapan kami seharusnya DPRD Berau  berpihak kepada rakyat, bukan malah bersikap arogan. Kalau tidak ada tanggapan, kami akan terus turun ke jalan,” tegas Josua.

 

Aksi mahasiswa ini menjadi sinyal kuat bahwa keresahan di internal STIPER telah memuncak. Mereka menyatakan akan terus memperjuangkan hak-hak mereka dan menolak segala bentuk keputusan sepihak yang merugikan masa depan pendidikan di kampus tersebut.(sep/FN)